Woda

Ia melangkahkan kakinya di jalanan yang penuh dengan daun yang gugur, jalan itu konon katanya jalan pintas menuju danau, ia mengetahuinya dari temannya yang sebenarnya temannya sendiri belum pernah membuktikannya, jadi ia yang pertama melakukannya dari kalimat yang keluar dengan kata pembuka 'katanya' itu.
sudah setengah jalan jaunya dari jalan utama dan ia yakin kalau temannya benar, karena dari balik pohon walau kejauhan ia sudah dapat melihat pantulan cahaya dan air berkilauan.

ia duduk sebentar di tepian

ternyata ia tidak sendiri, ada banyak sekali orang

tapi di sisi ia berada, ia sendirian

yang ia lakukan selanjutnya adalah mengamati aktivitas yang dilakukan orang-orang yang menurutnya banyak itu

ia hitung ulang, jumlahnya ada 13 orang, beserta ia

Satu orang sedang mempersiapkan alat pancingnya ada di seberangnya, sementara ada 5 orang lainnya sudah duduk bersisian dengan nyaman di kursi yang sepertinya mereka bawa sendiri, 2 lainnya adalah pasangan yang sepertinya baru saja menikah dan sedang berada di atas sekoci kecil, dengan satu orang pemandu sambil mengayuh nampan. tidak jauh dari itu ada 3 orang, 2 orang dewasa dan satu anaknya sedang duduk di atas tikar dengan banyak sekali makanan di atasnya, dan keranjang yang mereka bawa sepertinya juga berisi makanan, si anak kecil sedang bermain dengan bola sementara ayahnya sibuk mencari kayu bakar, ibunya sedang mengupas buah.

Woda, menaruh ranselnya, meluruskan kakinya lalu memandang lurus ke arah danau, ia suka sekali kegiatan seperti ini, tidak sembari melakukan kegiatan dan memasang ekspresi yang harus ia fikirkan saat harus mengeluarkannya, yang ia lakukan hanya memandang lurus, duduk diam, dan tidak berekspresi, benar-benar tidak melakukan apa-apa.
baginya duduk-duduk seperti ini sangat mengembalikan energi yang menurut ia telah ia buang. bagi dirinya berinteraksi dengan orang-orang adalah membuang energi, sementara ia sendiri membutuhkannya agar terus hidup, 'atau aku hanya salah lingkungan saja?' ia selalu bertanya begitu dalam hatinya.

Woda tetap dalam posisinya duduk dan tidak melakukan apapun selama 30 menit, lalu ia kelelahan sendiri, padahal ia tidak melakukan apa-apa 'apa aku terlalu banyak ya merecharge energinya?' pikirnya lagi.

Hai Woda, ini aku bukan siapa-siapa yang tiba-tiba menyapamu, aku sangat-sangat putus asa sampai berani bertindak seperti itu, tetapi sepertinya sejauh ini aku mengenal orang, hanya kamu yang aku perlakukan seperti itu, apakah karena aku pikir aku layak mendapatkan cinta yang seperti itu ya, padahal si kamu jelas dapat yang lebih baik, sepertinya aku terlalu percaya diri ya Woda, maaf ya, kalau aku mengingatnya juga aku malu sendiri.

Woda kamu sehat-sehat ya, sukses selalu.

Woda mungkin tidak tau ada yang menulis seperti itu untuknya.

Dunia ini memang bergerak dengan cara yang misterius, tidak ada yang gamblang transparan dan mudah untuk dilalui. dan indahnya, komunikasi menjernihkan semua itu, tetapi pada akhirnya untuk apa komunikasi, kalau untuk melakukan hal itu saja sudah sangat melelahkan.

lalu adakah yang menulis hal yang sama kepada bukan siapa-siapa?

Bukan siapa-siapa sendirian dan sepi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

I want to love, that remind me to smile gracefully and easy

maɪ lʌv

begini