Red Flag

Kebanyakan dari kita manusia 

Ya kata siapa bukan.


Dalam sebuah hubungan red flag yang dimaksud adalah tanda berhenti, saat muncul tanda berhenti itu seharusnya kita mengikutinya, berhenti. Namun banyak hal terlibat, dalam hal ini emosi. 

Seseorang seperti saya yang membangun sekian tinggi defense agar tidak mengalami hal yang membuat saya harus berpusing-pusing pada sebuah hubungan tidak jelas arah dan tujuannya dengan manusia, seharusnya mempunyai banyak alasan agar red flag tersebut benar-benar ditaati, namun yang terjadi saat peristiwa itu benar-benar ter-alami, yang dilakukan adalah, no thoughts head empty, in my defense I have none, apakah hal tersebut sudah dinamakan cinta? Oh ya menyedihkan sekali hal tersebut harus terjadi kepadaku, apakah sebagai manusia kita semua harus mengalaminya?


Aku selama ini sibuk membangun benteng, bertahan agar tidak sakit kepala memikirkan hal-hal yang terlalu banyak variabelnya karena melibatkan orang lain, sesuatu yang tidak dapat saya kontrol bagaimana. Kemudian kenapa seseorang harus datang membawa tangga melewati benteng, dan bodohnya aku menyambutnya, bahagia sekali dunia saat itu, me after you is something that I really want to capture, I'm so happy happy and really happy, something 'happy' that I never have before.

Kemudian dengan tangga yang masih ada di dekat benteng, dia pergi.


Before you I always be alone, and I think I'm happy in my 'alone' time, then I realized I'm so lonely actually.


The 'benteng' yang dibangun ternyata bukan untuk sesuatu yang sebenarnya dihindari, benteng yang dibangun menggunakan hal-hal negatif berupa tidaknya menerima diri sendiri dengan apa adanya, berfikir sendiri menjadi lebih baik karena memang kamu tidak akan diterima dimanapun, lalu saat seseorang menawarkan, kamu mengiyakan, merasa bahwa dirimu lengkap, dan hal itu yang kemudian kamu sadari kamu tidak punya.


Mencintai diri sendiri, adalah sesuatu yang harus kamu lakukan saat membangun benteng, whatever there is someone beside you or not, you still stand by yourself, kamu tidak akan mudahnya dibodohi bahwa saat seseorang itu pergi kamu merasa tidak berguna, kamu berguna untuk dirimu sendiri dan kamu diciptakan untuk sesuatu yang walaupun saat ini kamu belum mengetahuinya, kamu ada berdasarkan tujuan.


Jika kemudian perasaanmu yang berharga itu sudah dicurahkan kepadanya dengan tulus, kamu mencintainya, menghargainya, ada untuknya, lalu kemudian dia pergi.

Bukan kamu yang kehilangan.

Tentu saja dia yang kehilangan.


Seseorang seperti dirimu begitu berharga, jika semua hal yang terjadi terasa begitu menyedihkan, sedihlah, setelah itu segera bangkit, karena benteng yang sudah rusak itu, dapat kamu bangun kembali dan lebih kokoh, orang yang menyakitimu, tidak akan pernah dapat menggapainya.


Tetap Semangat, 2020 memang berat.




Komentar